Sekilas tentang Keterbukaan Pikiran

,
   Apr 4, '08 5:25 AM
untuk semuanya

Oleh: Bagus Takwin


“Pikiran seperti parasut, keduanya bekerja pada saat terbuka.” Begitu pernah Frank Zappa berseru dalam sebuah lagunya. Pikiran dan parasut sama-sama berfungsi untuk menyelamatkan manusia. Parasut digunakan manusia pada saat terjun, bisa terjun sebagai olah raga, atau sebagai cara menyelamatkan diri pada saat terjadi kecelakaan di udara. Pikiran menyelamatkan manusia dari kebingungan, dari kekacauan, dari bahaya-bahaya penggunaan informasi secara salah, menyelamatkan manusia dari berbagai macam kerugian, kenistaan dan keterbelakangan. Syarat bekerjanya parasut adalah keterbukaannya, hal ini mudah dimengerti dan sudah banyak yang tahu. Lalu mengapa syarat bekerjanya pikiran adalah keterbukaannya?
Berpikir adalah kegiatan mental yang dilakukan manusia untuk mengolah informasi, baik yang diperoleh dari lingkungan maupun yang sudah ada dalam benak. Pengertian kegiatan mental disini adalah berkerjanya elemen-elemen sistem syaraf manusia. Informasi adalah segala sesuatu yang dapat dipersepsi oleh manusia. Sedangkan kegiatan mengolah informasi meliputi meliputikegiatan menanggapi dan mencipta informasi. Dalam proses ini manusia menanggapi informasi yang dimilikinya, menafsirkan makna dan maksud informasi. mereka-reka pengaruh informasi itu terhadap dirinya, serta menimbang-nimbang seberapa jauh keterangan-keterangan yang dikandung informasi itu penting bagi dirinya dan orang lain. Kegiatan menanggapi informasi yang dimiliki tersebut seringkali menghasilkan satu informasi baru, dengan kata lain dalam kegiatan ini manusia menciptakan informasi baru. Informasi baru ini dapat berbentuk kesimpulan atau pertanyaan.
    Dari definisi tentang berpikir tersebut dapat disimpulkan bahwa berpikir harus selalu melibatkan informasi. Tanpa informasi, manusia tidak dapat berpikir. Semakin banyak informasi, semakin lancar kegiatan berpikir.Implikasinya, semakin manusia mampu menyerap informasi, semakin ia mampu berpikir dengan baik. Kemampuan menyerap informasi mensyaratkan adanya keterbukaan dalam benak (pikiran) manusia. Di sinilah letak kesamaan pikiran dengan parasut seperti yang disebut di awal tulisan ini.
Apa jadinya kalau pikiran tidak terbuka?
Kalau pikiran tidak terbuka, manusia masih dapat berpikir, namun kegiatan berpikirnya lebih menyerupai kegiatan instingtif pada hewan. Kegiatan berpikir yang dilakukannya cuma sekedar pengulangan dari yang sudah dilakukan olehnya dan nenek-moyangnya. Kalau manusia tidak dapat berpikir kecelakaan lebih mungkin terjadi. Tanpa berpikir manusia hanya mengandalkan insting. Ia tidak tahu bagaimana menemukan cara baru untuk menghindari bencana, mencegah terjadinya kecelakaan dan menangani akibat kecelakaan.

Seberapa Jauh Pikiran Manusia Dapat Terbuka?

“Dunia manusia adalah dunia terbuka” Begitu Enrst Cassirer menulis dalamAn Essay on Man. Dunia manusia adalah dunia yang mengandung ‘serba kemungkinan’. Berbagai kemungkinan dapat terjadi. Dengan ’serba kemungkinan’ manusia, dunia manusia terbuka terhadap kemungkinan apa saja. ‘Serba kemungkinan’ ini dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan mencipta dan menggunakan simbol-simbol —termasuk bahasa. Dengan kemampuannya menggunakan simbol, manusia dapat mengkomunikasikan ide-ide, pengalaman-pengalaman, dan pengetahuannya kepada manusia lain. Seorang manusia yang sudah pernah mengunjungi suatu tempat, dapat menceritakan pengalamannya berada di tempat itu kepada manusia lain yang belum pernah mengunjungi tempat tersebut. Pengetahuan yang dimiliki seseorang dapat dikomunikasikan dengan orang lain sehingga dapat terjadi penyebaran dan pertukaran pengetahuan. Manusiapun dapat mengetahui berbagai hal tanpa harus langsung berhadapan dengan hal-hal itu.
Penyebaran dan pertukaran pengetahuan ini lebih berkembang lagi dengan ditemukannya tulisan. Budaya menulis menjadikan hasil karya manusia lebih tahan lama dan memiliki daya jangkau yang luas. Dengan tulisan, manusia dapat belajar dari pendahulu-pendahulunya. Mereka juga dapat belajar dari orang-orang lain yang jauh jarak fisiknya lewat tulisan. Manusia dapat saling menanggapi satu sama lain lewat tulisan. Dialog antar manusia dapat terjadi tanpa harus bertemu muka. Mereka dapat berkomunikasi lewat surat, buku, dan media tulis lainnya. Komunikasi pengetahuan, budaya, dan teknologi makin pesat dengan adanya tulisan.
Komunikasi manusia juga berkembang melalui media-media elektronik seperti TV, radio, telepon, dan internet. Keterbukaan dunia manusia semakin lebar dan ke-serba kemungkinan-nya pun semakin tinggi. Hal ini  makin menunjukkan bahwa “Dunia manusia adalah dunia yang terbuka.”
Sampai batas mana keterbukaannya? Hingga kini kemungkinan manusia untuk berkembang tetap ada. Tidak ada yang tahu sampai sejauh mana manusia dapat berkembang, tak ada yang tahu kemungkinan-kemungkinan apalagi yang akan jadi kepastian. Manusia terus membuka diri bagi berbagai kemungkinan baru, terus mengutak-atik dunianya.

Keterbukaan Pikiran sebagai Pemacu Kemajuan

Kemajuan yang dicapai manusia sekarang tidak diperoleh dalam waktu yang singkat. Kemajuan itu dicapai lewat berbagai usaha pemahaman terhadap alam, perilaku manusia, dan usaha-usaha manusia menemukan serta menciptakan hal-hal baru. Kemajuan itu dicapai melalui proses kerja yang panjang dan melibatkan begitu banyak orang. Dari sanalah manusia belajar. Ia belajar dari kemajuan-kemajuan yang sudah dicapai manusia lain. Ia belajar dari lingkungan dan pengalaman orang lain. Hasil belajarnya itu nantinya akan digunakan sebagai bahan masukkan —paling tidak sebagai penggugah dan motivator— untuk menciptakan hal-hal yang baru. Dengan demikian tetap terjadi kemajuan dalam kehidupan manusia.
Untuk dapat belajar dari kemajuan yang telah dicapai, belajar dari lingkungan, dan pengalaman orang lain, manusia harus memiliki daya observasi dan daya serap terhadap informasi yang tinggi. Di sinilah keterbukaan pikiran sangat dibutuhkan. Dengan keterbukaan pikiran yang tinggi tingkat penerimaan terhadap informasi menajdi lebih tinggi. Dengan demikian kesiapan manusia untuk menerima pengetahuan-pengetahuan baru, contoh-contoh yang baik, alternatif solusi, dan berbagai rujukan lainnya, semakin tinggi.

Bagaimana Meningkatkan Keterbukaan Pikiran?

    Sering tidaknya seseorang terlibat dalam suatu permasalahan akan mempengaruhi pemahamannya terhadap permasalahan itu. Semakin sering seseorang terlibat dalam suatu permasalahan, semakin mendalam pemahamannya tentang permasalahan itu. Dengan pemahaman yang tinggi, ia makin mampu menyelesaikan masalah-masalah yang timbul di seputar permasalahan tersebut, termasuk tentang cara-cara yang mungkin digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah itu. Ia juga mengerti intisari masalah dan prinsip-prinsip umum penyelesaian masalah. Dengan mengusai inti sari masalah dan prinsip-prinsip penyelesaiannya, ia dapat menemukan dan menciptakan cara yang tepat untuk menyelesaikannya. Ia juga mengerti bahwa cara yang ada hanyalah salah satu cara yang dapat digunakan sehingga tidak terpaku hanya pada satu cara saja. Ia dapat menggunakan cara lain yang dianggapnya tepat meskipun cara itu berbeda dengan cara orang kebanyakan.
Membaca karya sastra yang beragam dapat meningkatkan kompleksitas pikiran karena si pembaca akan berhadapan dengan berbagai kejadian yang digambarkan dalam karya-karya itu. Meskipun hanya sebatas kognisi dan afeksi, pembaca karya sastra mendapat pengalaman menyelami seluk beluk tokoh dan peristiwa dalam karya sastra yang dibacanya. Pembaca juga dimungkinkan berempati, bahkan bersimpati pada tokoh cerita. Di sini pembaca sangat dimungkinkan untuk mengambil peran tokoh cerita. Ia memiliki kesempatan untuk berpikir, merasa, dan menghayati dunia dengan menggunakan sudut pandang tokoh. Pengalaman yang memberi kesempatan pada seseorang untuk bertukar peran atau role-taking dengan orang lain yang memiliki latar belakang berbeda meningkatkan kemampuan seseorang dalam menilai suatu hal dari berbagai sudut pandang (Kohlberg, 1984). Dengan kemampuan melihat masalah dari berbagai sudut pandang, ia dapat melihat berbagai alternatif pemecahan masalah yang dengan sendirinya meningkatkan kemampuannya memecahkan persoalan.
    Pengalaman dimana seseorang memiliki kesempatan untuk bertukar peran atau role-taking dengan orang lain yang memiliki latar belakang berbeda meningkatkan kemampuan seseorang dalam menilai suatu hal dari berbagai sudut pandang (Kohlberg, 1984). Untuk bisa berpikir kritis seseorang harus mampu melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang, termasuk dalam menilai sebuah informasi. Dengan kemampuan melihat masalah dari berbagai sudut pandang, kemampuan berpikir kritis makin meningkat.
Secara umum, peningkatan keterbukaan pikiran selalu melibatkan komunikasi yaitu proses penyampaian ide, pikiran, dan keahlian suatu pihak kepada pihak lain. Seperti yang sudah dijelaskan dalam bagian 4 dari buku ini tentang berpikir kritis, komunikasi mempercepat proses pemahaman nilai-nilai baru.Dalam komunikasi terjadi pertukaran informasi, masing-masing orang akan mencurahkan isi pikirannya kepada orang lain. Komunikasi yang efektif akan menghasilkan pengertian yang menyeluruh tentang pikiran dan perasaan seseorang. Merujuk pada Habermas, manusia memiliki pikiran intersubyektif berupa kemampuan untuk mengerti dan memahami pikiran dan perasaan  orang lain, mengerti apa yang diungkapkan orang lain. Dengan kemampuan berpikir intersubyektif yang baik seseorang dapat mengerti informasi-informasi dari orang lain dengan baik. Dengan demikian ia bisa mengetahui maksud sebenarnya dari informasi yang diterimanya itu. Ia mampu memahami mengapa seseorang mengemukakan suatu pendapat, apa yang melatar belakanginya dan untuk tujuan apa. Pemahamannya itu membuat memiliki pengetahuan tentang banyaknya pendapat yang berbeda-beda yang masing-masing memiliki kemungkinan untuk benar. Hal ini membuat ia tidak kaku terhadap satu pendapat saja. Dengan pemahamannya ini ia terdorong untuk melakukan proses dialog setiap kali akan mengambil tindakan baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain. Hal ini akan meningkatkan keterbukaan pikirannya.
Kegiatan komunikasi yang dilakukan dalam diskusi, tanya-jawab, permainan-permainan yang melibatkan proses komunikasi, dan memberikan umpan balik kepada pendapat orang lain. Kegiatan terlibat dalam berbagai permasalahan, membaca  karya sastra, dan pengalaman bertukar peran mengandung kegiatan komunikasi di dalamnya.
Ketika terlibat dalam berbagai permasalahan terbina komunikasi antar orang yang ikut ambil bagian dalam penyelesaian masalah-masalah di dalamnya. Jika hanya satu orang yang terlibat dalam penyelesaian masalah, paling tidak ia melakukan perujukkan pada pengalaman-pengalaman sebelumnya, baik pengalamannya maupun pengalaman orang lain. Pada saat membaca karya sastra, secara psikologis si pembaca melakukan komunikasi dengan penulis dan tokoh-tokoh dalam karya itu. Dalam komunikasi harus ada hubungan yang sejajar antara peserta komunikasi. Kebebasan tiap peserta komunikasi harus ditegakkan untuk mencapai hasil yang diinginkan: keterbukaan pikiran.***


Kopas from: http://bagustakwin.multiply.com/journal  pada Feb 2013




Read more →

Psikologi Umum

,
Dian Sugiarti
Namaku Dian Sugiarti,aku ga tau apa yang harus aku tulis disini, yang jelas aku ya aku dan bukan orag lain...

Artikel Psikologi Umum



Psikologi adalah suatu ilmu yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan. Dalam mempelajari psikologi membutuhkan waktu yang relatif lama,karena psikologi merupakan cabang dari filsafat. Dahulu psikologi mempelajari mind (pikiran) tetapi lama-lama kata mind berubah menjadi behavior (tingkah laku). Ini karena kata mind bersifat abstrak jadi sukar untuk dipelajari. Sedangkan apabila mempelajari tingkah laku manusia lebih mudah karena dapat diamati dengan menggunakan indra kita. Tetapi perlu diketahui bahwa sesungguhnya manusia itu hanya diberi pengetahuan sedikit saja tentang jiwa seperti yang telah diterangkan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an, bahwa manusia hanya diberikan sedikit saja pengetahuan tentang jiwa sedangkan selebihnya itu urusan Allah SWT.
Banyak sekali terdapat definisi tentang psikologi. Dengan begitu banyak pula terdapat perbedaan dikalangan para ahli mengenai psikologi. Kita tidak akan menjelaskan semuanya itu, tetapi disini kami akan membahas definisi yang masih digunakan sampai sekarang antara lain:
a. Definisi Etimologi
Definisi yang dipakai dengan cara memberikan asal usul suatu kata, tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa istilah itu hanya mengandung pengertian yang ada sekarang saja.
b. Definisi Sinonim
Definisi ini menggunakan sinonim, karena sinonim memberikan bantuan terbesar dalam pembuatannya.
c. Definisi Uraian
Definisi ini menguraikan segala sesuatu dengan menjelaskan ciri-ciri dan bagian-bagiannya satu persatu. Definisi ini digunakan untuk membatasi pengertian suatu istilah dengan membedakan genusnya (kelasnya) dan mengadakan diferensiasi. Tujuannya adalah untuk memberi pengertian yang membedakan genus dan menyebut diferensiasi suatu kata.

Ternyata di dalam membuat suatu perumusan definisi terdapat beberapa kesalahan. Kesalahan itu diantaranya:
•Overindusion yaitu Suatu kesalahan dapat terjadi karena definisi itu dirumuskan terlalu teliti.
•Ovverrestriction yaitu Kesalahan ini terjadi karena pembatasan yang terlalu sempit. Contohnya : kerajaan adalah bentuk Negara dengan kepala Negara didasarkan pada keturunan raja, tetapi ini definisi yang salah, karena tidak selalu kepala Negara berdasarkan pada keturunan ada juga yang berdasarkan pada kekerasan akibat peperangan penunjukan atau pemilihan.
•Duplication. Kesalahan ini terjadi karena mudah penggunaannya. Contohnya : buku adalah kitab.
•Circularity. Kesalahan penggunaan dari definiendum ( yang dijelaskan ) dalam definiens ( yang menjelaskan). Biasanya kesalahan ini terjadi dalam kalimat bersusun bukan kalimat tunggal .
•Ambiguity. Penjelasan yang di barikan dalam kalimat samar-samar atau tidak jelas . Kesalahan ini terjadi pada kalimat-kalimat yang panjang , ini dikarenakan pemikiran yag kurang teratur.
•Obscurity. Kesalahan ini terjadi karena definisi yang di buat tidak jelas.
Di atas sudah di jelaskan kesalahan-kesalahan yang ada di dalam pembuatan definisi, agar kita dapat memperbaiki kesalahan – kesalahan itu maka ada beberapa persyaratan yang bisa di lakukan agar dapat membuat definisi yang baik. Menurut Bakry dan Mehraada 4 syarat yaitu:
1. Definisi tidak boleh terlalu luas ataupun terlalu sempit
2. Tidak boleh samar-samar dan harus jelas penjelasannya
3.Tidak menggunakan istilah yang terlalu umum
4.Tidak menggunakan kata negative.
Psikologi sebagai ilmu
Ada 4 syarat psikologi sebagai ilmu, yaitu:
1.Mempunyai objek
Objek psikologi ada 2 yaitu objek material dan objek formal. Objek material yaitu apa saja yang di bahas, di pelajari dan di selidiki yang ditentukan dan dijadikan sasaran pemikiran. Objek ini merupakan masalah pokok. Objek formal yaitu cara pandang, dan tinjauan peneliti terhadap objek material dan prinsip-prinsip yang digunakan. Objek ini yang membedakan ilmu satu dengan ilmu lain.
2. Mempunyai metode
Cara kerja untuk memahami objek sasaran dan psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri dan telah menggunakan metode ilmiah. Sifat-sifat metode ilmiah yaitu objektif ( apa adanya), adekuat (?) ( sesuai masalah dan tujuan), Reliable (dapat dipercaya dan infonya tepat), Valid (sesuai objek), Sistematis (urut atau tersusun dengan baik), Akurat (member data yang teliti).
3. Sistematis
Psikologi mempunyai susunan yang baik dan benar. Berikut ada beberapa cabang psikologi yaitu:
a. Psikologi teoritis yaitu psikologi berdasarkan teori.Teori ini digunakan untuk memprediksi lalu teori ini digunakan untuk menjelaskan. Maka teori ini merupakan alat terpenting dari satu ilmu pengetahuan. 
Ada 2 kelompok psikologi teoritis: 
        Psikologi umum psikologi ini mempelajari menguraikan dan menyelidiki aktivitas psikis manusia yang sifatnya umum.
       Psikologi khusus psikologi yang mempelajari tingkah laku manusia pada situasi khusus.
b. Psikologi praktis .Di sebut juga psikologi terapan yaitu psikologi yang mempelajari tingkah laku individu dalam kehidupannya. Tujuannya untuk menemukan prinsip-prinsip psikologi untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan manusia. Adapun cabang-cabang psikologi praktis diantaranya : Psikologi perusahaan ( menyelesaikan masalah – masalah dalam perusahaan ) , Psikologi klinis dan bimbingan psikologi ( usaha para psikolog untuk menolong orang yang menderita).
4.Universal
Psikologi itu harus berlaku untuk umum. Tidak hanya berlaku hanya pada satu cabang ilmu saja melainkan keseluruhan ilmu.
Psikologi sebagai Filsafat
Dahulu para filsuf kuno telah membahas mengenai psikologi dan di katakan bahwa semua ilmu tergolong ke dalam filsafat sedangkan ahli filsafat mengatakan bahwa filsafat adalah induk ilmu pengetahuan. Lalu apa sebenarnya filsafat itu? Filsafat adalah suatu ilmu yang mempelajari hakekat sesuatu dengan menciptakan pertanyaan dan jawaban secara terus-menerus sehingga mencapai pengertian yang hakiki tentang sesuatu . Namun pada masa itu belum ada pembuktian yang empiris melainkan hanya teori-teori berdasarkan argumentasi logika belaka .


sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/31/artikel-psikologi-umum/

Read more →
,

Peranan Filsafat bagi Perkembangan Ilmu Psikologi

Read more →

Relevansi Filsafat dan Psikologi

,
NUR AZIZAH FADHILAH
Filsafat
http://filsafat.kompasiana.com/2011/03/03/relevansi-filsafat-dan-psikologi-344795.html

KITA ADALAH DIRI KITA SENDIRI. TAPI,AKAN SELALU ADA,MESKI KAU PIKIR MUSTAHIL,MESKI KAU TIDAK MERASAKAN KEHADIRANNYA,,, SELALU ADA ORANG-ORANG YANG BERPIKIR SEPERTIMU,BISA MEMAHAMIMU&BISA MENYAYANGIMU... TAK SEORANG PUN BENAR-BENAR SEBATANG KARA... KITA TIDAK PERNAH BENAR-BENAR SENDIRIAN... (_Ra)

Relevansi Filsafat dan Psikologi

OPINI | 03 March 2011 | 15:51










































































Dibaca: 607  




Banyak informasi penting dikumpulkan melalui berbagai ilmu pengetahuan dan mendapat perlakuan dari filsafat. Kita mengetahui bahwa psikologi dapat memberi gambaran kepada kita mengenai manusia, sosiologi, biologi, dan lain-lain. Hasil yang diperoleh setelah semua ilmu pengetahuan yang telah diteliti bukan merupakan gambaran campuran dari seorang manusia, tapi merupakan gambar-gambar yang berbeda. Gambar tersebut belum memuaskan karena menjelaskan aspek-aspek yang berbeda antarmanusia secara keseluruhan. Kita bisa menyatukan gambar-gambar terpisah  itu menjadi gambar seorang manusia yang lengkap, tetapi tidak menggunakan metode ilmiah saja. Hal tersebut juga memerlukan filsafat untuk menyatukan penemuan dari ilmu pengetahuan dan menguhubungkan konsep-konsep dasar yang ada.
Para filsuf menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan muncul sebelum dan setelah para ilmuwan menyelesaikan pekerjaannya. Isyarat awal para ilmuwan tradisional, contohnya bahwa semua kejadian disebabkan oleh kejadian lain. Beberapa pertanyaan tidak bisa dijawab oleh logika ilmu pengetahuan, karena penyebab itu tidak bisa ditemukan, yang ada hanyalah asumsi ilmu pengetahuan. Kecuali jika ilmuwan berasumsi bahwa kenyataan adalah kausalitas di alam, tidak akan ada yang bisa memulai untuk menyelidikinya. Para ilmuwan tidak bisa menjawab hal-hal yang bersifat kebalikan dari yang kita lihat. Filsafat adalah alami dan penting bagi manusia. Kita selamanya selalu mencari suatu acuan kerja yang komprehensif dimana beberapa penemuan akan memberikan perbedaan yang sangat besar. Tidak hanya bahwa filsafat itu merupakan cabang dari pengetahuan yang disertai dengan seni, ilmu pengetahuan/sains dan sejarah, tetapi juga sebenarnya meliputi disiplin ilmu secara teoritis dan menjelaskan hubungan hal-hal tersebut. Sekali lagi, filsafat berusaha untuk membuat sebuah hubungan secara keseluruhan dari semua bidang pengalaman.
Filsafat mempertanyakan jawaban, sedangkan psikologi menjawab pertanyaan atau masalah. Jadi dengan berfilsafat, psikolog mendapatkan solusi dari permasalahan kliennya. Karena terus diberikan pertanyaan secara terus menerus sampai akhirnya ada kesimpulan dari pertanyaan permasalahan itu. Ketika seseorang telah mampu mempertanyakan tentang dirinya, pembentukan dirinya, dan posisi dirinya di alam semesta ini, itu berarti orang tersebut sudah berfilsafat ke taraf yang paling tinggi, untuk itu dibutuhkan perenungan.
Psikologi adalah ilmu yang tergolong muda (sekitar akhir 1800an.) Tetapi, manusia di sepanjang sejarah telah memperhatikan masalah psikologi. Seperti filsuf Yunani terutama Plato dan Aristoteles. Setelah itu St. Augustine (354-430) dianggap tokoh besar dalam psikologi modern karena perhatiannya pada intropeksi dan keingintahuannya tentang fenomena psikologi. Descartes (1596-1650) mengajukan teori bahwa hewan adalah mesin yang dapat dipelajari sebagaimana mesin lainnya. Ia juga memperkenalkan konsep kerja refleks. Banyak ahli filsafat terkenal lain dalam abad 17 dan 18, misalnya Leibnits, Hobbes, Locke, Kant, dan Hume yang memberikan sumbangan dalam bidang psikologi. Pada waktu itu psikologi masih berbentuk wacana, belum menjadi ilmu pengetahuan.
Psikologi adalah ilmu yang luas dan ambisius, dilengkapi oleh biologi dan ilmu saraf pada perbatasannya dengan ilmu alam dan dilengkapi oleh sosiologi dan anthropologi pada perbatasannya dengan ilmu sosial. Psikologi telah memiliki syarat untuk dapat berdiri sendiri sebagai ilmu pengetahuan terlepas dari filsafat. Hal itu karena syarat ilmu pengetahuan, yaitu memiliki objek yaitu tingkah laku, memiliki metode penelitian (sejak laboratorium Wundt didirikan), sistematis,dan bersifat universal.
Filsafat adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. Ini didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Dialektika ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk dialog. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, dan ketertarikan/kepenasaranan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sedikit sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.
Read more →

FILSAFAT ILMU PSIKOLOGI

,

Senin, 26 September 2011

FILSAFAT ILMU PSIKOLOGI

http://hifharae.blogspot.com/2011/09/filsafat-ilmu-psikologi.html
Filsafat Ilmu Psikologi
A.     Pengertian Filsafat Ilmu psikologi
Filsafat ilmu Psikologi merupakan cabang dari filsafat pengetahuan.
1.       Dasar metafisika, ditinjau dari aliran besar dalam psikologi seperti ada tidaknya hubungan antara psikologi behavioristik dan psikologi psikoanalisis.
2.       Dasar Epsitemologi, terkait dengan objek kajian psikologi, metode dan batas pengetahuan.
3.       DasarAksiologi, penerapan prinsip etika dalam praktek
4.       Dasar  Logika Ilmu, pembentukan kesimpulan yang sah.
B.      Ruang Lingkup Kajian Filsafat Ilmu Psikologi
1.       Metafisika: Eksistensi realitas yang berhubungan dengan keberadaan ilmu psikologi
2.       Epistemologis: Metode pencapaian pengetahuan yang berhubungan dengan ilmu psikologi
3.       Etika: Moral yang berhubungan dengan aktivitas pencapaian ilmu dan penerapan ilmu psikologi dalam masyarakat.
4.       Estetika: keindahan yang berhubungan dengan ilmu psikologi
5.       Logika: pembentukan suatu kesimpulan ilmiah yang berhubungan dengan ilmu psikologi
Ruang Lingkup yang lain: ilmu psikologi mencakup pengertian, tujuan, masalah metode, penggolongan, pengembangan teori, hubungan, serta aliran.
C.      Penggolongan Filsafat Ilmu
-          Oleh : Arthur pap
-          Terbagi menjadi:
1.       Filsafat Ilmu Umum, menekankan konsep filosofis dan ciri-ciri umum metode ilmiah. Objeknya: semua ilmu
2.       Filsafat Ilmu khusus, menekankan konsep filosofis pada ilmu tertentu dan ciri-ciri metode ilmiah yang digunakan ilmu itu. Contoh: filsafat ilmu biologi, filsafat ilmu psikologi, dll.
D.      Aliran-aliran utama dalam Filsafat Ilmu
1.       Empirisme
-          Pengalaman menciptakan pengetahuan manusia
-          Pengalaman yang bersifat sensorik (berdasarkan fungsi alat panca indra) dan indrawi.
Contoh: melakukan observasi dengan bantuan indra manusia bahwa air mendidih dalam suhu 1000
-          Varian dalam Empirisme:
a.       Empirisme naif
b.      Empirisme Kontemporer
c.       Empirisme ekstrim
2.       Rasionalisme
-          Pengetahuan manusia berasal dari AKAL
-          Contoh: ilmu yang mutlak seperti matematika, kebenarannya sudah pasti dan tidak ada kondisi apapun yang dapat membuatnya menjadi salah.
Read more →

Pengertian ffilsafat psikologi

,
Filsafat psikologi mengacu pada isu-isu di fondasi teoritis psikologi modern. Beberapa isu-isu keprihatinan epistemologis tentang metodologi investigasi psikologis. Sebagai contoh:

* Apa yang merupakan metodologi yang paling tepat untuk psikologi: mentalisme, behaviorisme, atau kompromi?
* Apakah laporan diri suatu metode pengumpulan data yang dapat diandalkan?
* Apa kesimpulan yang bisa ditarik dari uji hipotesis nol?
* Dapat pengalaman orang pertama (emosi, keinginan, keyakinan, dll) diukur secara obyektif?

Isu-isu lain dalam filsafat psikologi adalah pertanyaan filosofis tentang sifat dari pikiran, otak, dan kognisi, dan mungkin lebih sering dianggap sebagai bagian dari ilmu pengetahuan kognitif, atau filsafat pikiran, seperti:

* Apakah yang dimaksud dengan modul kognitif?
* Apakah makhluk manusia rasional?
* Apa fenomena psikologis datang dengan standar yang diperlukan untuk menyebutnya pengetahuan?
* Apa itu pembawaan sejak lahir?

Filsafat psikologi juga dengan teliti memantau karya kontemporer dilakukan dalam ilmu saraf kognitif, psikologi evolusioner, dan kecerdasan buatan, misalnya mempertanyakan apakah fenomena psikologis dapat dijelaskan dengan menggunakan metode neuroscience, teori evolusi, dan model komputasi, masing-masing. Walaupun ini semua bidang yang berhubungan erat, beberapa kekhawatiran masih muncul tentang kelayakan mengimpor metode mereka ke dalam psikologi. Beberapa kekhawatiran tersebut apakah psikologi, sebagai studi individu sebagai sistem pengolahan informasi (lihat Broadbent), adalah otonom dari apa yang terjadi di otak (bahkan jika sebagian besar psikolog setuju bahwa otak di beberapa perilaku arti menyebabkan (lihat supervenience)); apakah pikiran adalah 'hard-kabel' cukup untuk penyelidikan evolusioner untuk berbuah, dan apakah model komputasi dapat melakukan sesuatu yang lebih dari menawarkan kemungkinan implementasi teori kognitif yang memberitahu kita apa-apa tentang pikiran (Fodor & Pylyshyn 1988).

Filsafat psikologi adalah bidang yang relatif muda karena 'ilmiah' psikologi-yaitu psikologi yang nikmat metode eksperimental selama introspeksi - mendominasi studi psikologis hanya di akhir abad kesembilan belas. Salah satu filsafat keprihatinan psikologi adalah untuk mengevaluasi manfaat dari sekolah yang berbeda dari psikologi yang telah dan dipraktekkan. Misalnya, gunakan psikologi kognitif tentang keadaan mental internal bisa dibandingkan dengan behaviorisme, dan alasan penolakan luas behaviorisme pada pertengahan abad kedua puluh diperiksa.

Topik yang jatuh dalam filsafat pikiran, tentu saja, kembali lebih jauh. Sebagai contoh, pertanyaan tentang sifat dari pikiran, kualitas pengalaman, dan isu-isu tertentu seperti perdebatan antara dualisme dan monisme telah dibahas dalam filsafat selama berabad-abad.

Terkait dengan filsafat psikologi adalah pertanyaan filosofis dan epistemologis tentang psikiatri klinis dan psikopatologi. Filsafat Psikiatri ini terutama berkaitan dengan peran nilai-nilai dalam psikiatri: berasal dari teori nilai filosofis dan fenomenologi, praktik berbasis nilai-nilai ditujukan untuk memperbaiki dan memanusiakan klinis pengambilan keputusan dalam lingkungan yang sangat kompleks perawatan kesehatan mental [1] Filsafat. dari Psikopatologi terutama terlibat dalam refleksi epistemologis tentang dasar-dasar filosofis implisit klasifikasi kejiwaan dan psikiatri berdasarkan bukti. Tujuannya adalah untuk mengungkap kegiatan konstruktif yang mendasari deskripsi fenomena mental.


sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2091004-pengertian-ffilsafat-psikologi/
Read more →

Psikologis model alis

,

Psikologis model alis


From: http://translate.googleusercontent.com/translate_c?depth=1&hl=id&rurl=translate.google.co.id&sl=fa&tl=id&twu=1&u=http://www.toopfun.com/%25D8%25B1%25D9%2588%25D8%25A7%25D9%2586%25D8%25B4%25D9%2586%25D8%25A7%25D8%25B3%25DB%258C-%25D9%2585%25D8%25AF%25D9%2584-%25D8%25A7%25D8%25A8%25D8%25B1%25D9%2588-%25D8%25A7%25D9%2581%25D8%25B1%25D8%25A7%25D8%25AF&usg=ALkJrhh5kt_VjEQWSQYQdzDe8xhsarfbgQ
abro روانشناسی مدل ابرو افراد


Periksa bahwa bentuk alis dan hubungannya dengan kepribadian manusia telah dilakukan, para ilmuwan telah menyimpulkan bahwa segala bentuk alis dengan kepribadian sendiri yang terkait.

Berikut adalah beberapa alis dan hubungannya dengan kepribadian: 
1 - alis yang lembut dan jarang adalah tanda ketidakdewasaan dan kurangnya pengalaman. 
2 - alis shaggy adalah tanda mobilitas tinggi dan energik. 
3 - mengangkat alis mengindikasikan stabilitas besar karakter dan usaha. 
4 - alis pendek adalah tanda stabilitas dan menjadi paranoid. 
5 - alis selalu tanda-tanda yang sensitif. 
6 - alis jauh dari tanda kelemahan dan isolasi dan ketidakdewasaan. 
7 - alis dekat mata pada tanda-tanda kemauan yang kuat dan pikiran. 
8 - Indikator alis karakter halus kuat dan keras kepala. 
9 - alis busur adalah tanda kekuatan dan vitalitas dan kehangatan. 
10 - Abrvhayy akhir nilai tinggi mereka memiliki keberanian dan sukacita dan kebahagiaan. 
11 - Abrvhayy jatuh ke dalam tanda kompleksitas karakter dan kecemasan.
Secara umum kita dapat mengatakan: 
Shaggy alis: action, 
Alis terangkat: akan menandatangani, 
Alis Top: Mark berkelana 
Alis: tanda kehangatan dan gairah. 



Read more →